sejarah kyai gading


 Pondok Pesantren Kyai Gading Candisari Mranggen Demak


Pada mulanya pesantren yang berada di bawah naungan Yayasan Kyai Gading ini semula merupakan Pondok Pesantren Thoriqoh Kholidiyyah Naqsabandiyyah yang didirikan oleh KH. Abu Mi’roj, yaitu murid dan sekaligus cucu menantu dari simbah KH. Muhammad Hadi Girikusumo Mranggen.


Setelah menikah dengan Nyai Kaltsum Binti KH. Abdul Ghofur Bin KH. Muhammad Hadi, KH. Abu Mi’roj menetap di dukuh Gading Desa Candisari Mranggen Demak (dulu lebih terjenal dengan nama Karangboyo). Saat pertama kali datang pada tahun 1912 Simbah KH. Abu Mi’roj kemudian membuat masjid dan sepetak rumah yang sederhana. Baru pada tahun 1926 ia mendapatkan amanat dari guru sekaligus Kakeknya yaitu KH. Muhammad Hadi untuk membuka pondok pesantren tarekat sebagaimana yang terdapat di Girikusumo yaitu Thoriqoh Kholidiyyah Naqsabandiyah.


Pada masa perjuangan kemerdekaan, pesantren ini juga merupakan basis laskar pejuang yang bertempur untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantara pertempuran yang diikuti dibawah komando KH. Abu Mi’roj adalah pertempuran di Mranggen, Alastuo, dan Genuk.


Selanjutnya atas inisiatif generasi baru yang dimotori oleh Fahsin M. Fa’al beserta kakak-kakak dan para sahabatnya dan atas restu KH. Chumaidi Mi’roj, maka rintisan lembaga pendidikan yang telah ada itu bermaksud dikembangkan secara lebih tertata dan profesional. Maka secara hukum dibuatlah akta notaris dan Badan Hukum atas nama lembaga baru yaitu Yayasan Kyai Gading yang lahir pada tanggaal 28 Oktober 2009. Atas usul Fahsin M. Fa’al nama Kyai Gading disandarkan pada tokoh yang pertama kali menyebarkan Islam di daerah Gading Candisari (baca: Kyaine Wong Gading), yang tidak lain adalah allahuyarham simbah KH. Abu Mi’roj.


Sampai saat ini telah ratusan santri datang dari berbagai daerah untuk mencari ilmu di Pondok Pesantren Putra Putri Kyai Gading Candisari Mranggen Demak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sejarah RA.kartini